Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Menyurati Jokowi, Ibu Rumah Tangga Ini Meminta Keadilan Karena Menanggung Utang Almarhum Suami Rp 224 Juta

Utang piutang
Menyurati Jokowi, Ibu Rumah Tangga Ini Meminta Keadilan Karena Menanggung Utang Almarhum Suami Rp 224 Juta/Kompas.com 

Yunatimes.com - Untuk mendapatkan keadilan, Ibu Rumah Tangga yang berasal dari kelurahan Sikumana, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT). 

Semua cara pun sudah ia coba, supaya kasus warisan utang dari almarhum suaminya Wellem Dethan di Bank Christa Jaya Kupang yang mencapai sebesar Rp 224 juta, bisa segera selesai dengan cara yang adil.

Tak tinggal diam, janda beranak anak satu tersebut lantas mengirimkan surat la gsunh ke Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Surat yang ia kirimkan ke Presiden itu isinya tentang cerita detail kasus yang tengah ia alami. Selain itu, ia juga mengirimkan surat itu ke Mahkamah Agung, Badan Pengawas Mahkamah Agung dan Komisi Yudisial.

Tujuan saya menulis surat seperti ini adalah untuk meminta adanya penegasan serta kejelasan hukum di Indonesia, khususnya di Pengadilan Negeri Kupang Kelas IA Kupang," ucap Mariantji, kepada beberapa wartawan yang berada di kediamannya, hari Selasa (5/10/2021).

Mariantji ingin, agar hukum yang di Indonesia ini benar-benar dijalankan sesuai dengan aturan hukum, sehingga dirinya yang sebagai orang kecil dapat merasakan hukum benar adil dan sesuai dengan peraturan.

Isi surat yang ia kirimkan ke Jokowi dan juga MA, tertulis jika kronologi perkara yang ia alami, termasuk juga dua putusan hakim Pengadilan Negeri Kelas I Kupang yang berbeda dalam satu subyek perkara yang sama.

Alhasil, membuat dirinya meminta supaya keadilan ini bisa ditegaskan.

"Kita hanya menginginkan kalau bisa Bapak Presiden sebagai pengayom masyarakat khususnya kita orang kecil, agar bisa melihat keluhan ini, supaya menerapkan hukum yang seadilnya-adilnya dan itu harapan saya," ucapnya.

Kasus itu pun sudah digugat Mariantji di Pengadilan Negeri Klas 1A Kupang pada tanggal 21 September 2019 tahun lalu.

Kemudian, pada tanggal 2 Desember 2019, hakim yang memimpin persidangan tersebut antara lain Nuril Huda (Hakim Ketua), Fransiskus Wilfrirdus Mamo (Hakim Anggota), Anak Agung Gde Oka Mahardika, SH (Hakim Anggota), mengabulkan gugatan Mariantji.

Dan selanjutnya, pada tanggal 12 April 2021, Pengadilan Negeri Kupang, telah mengeluarkan surat keterangan berkekuatan hukum tetap atau inkrah.

Bahkan, kata Mariantji, pihak pengadilan sudah memberikan nomor rekening, supaya dirinya menyetor biaya eksekusi senilai Rp 6 juta.

"Pada tanggal 26 September 2021 lalu, saya dan juga pengacara sudah menyetor. Tetapi, hingga sekarang ini masih belum dieksekusi," ucapnya.

Dengan surat yang sudah dikirim, Mariantji berharap, para petinggi di negara ini dapat memberikan tanggapan dan juga respons terhadap kasus yang menimpanya, sehingga dirinya bisa memperoleh keadilan.

"Saya hanya membutuhkan keadilan sebagai orang kecil. Saya dengan anak semata wayang harus menanggung semua ini," ucapnya.

Sebelumnya, Mariantji Manafe, ibu rumah tangga asal Kelurahan Sikumana, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), cukup kaget ketika mendapat surat dari Bank Christa Jaya Kupang.

Isi surat yang tertera pun sangat jelas, Mariantji harus segera melunasi uang pinjaman yang totalnya senilai Rp 224 juta.

Utang itu berasal dari almarhum suaminya Wellem Dethan, yang meninggal pada tahun 2018.

Posisi Mariantji selaku ahli waris, wajib untuk mengembalikan utang tersebut kepada Bank terkait.

Komisaris Utama Bank Christa Jaya Kupang Christofel Liyanto menjelaskan, jika kasus tersebut sebenarnya sudah berlangsung lama.

Christofel mengakui, jika selama ini hanyalah bersifat pasif terhadap perkara ini.

"Kita melihat masalah ini sebetulnya sangat sederhana, tapi tidak mau diselesaikan secara baik-baik," ucap Christofel di Kupang, hari Jumat (17/9/2021).

"Kita yang menjadi korban dan mengalami kerugian dan ingin diselesaikan baik-baik, tapi ibu Mariantji tidak mau, malah dia yang gugat kita," tambahnya.

Direktur Utama Bank Christa Jaya Kupang Wilson Liyanto juga menambahkan, dalam kasus pinjaman tersebut, pihaknya tidak pernah mengeluarkan surat keterangan lunas, maupun surat pencabutan jaminan kredit.

Bahkan, katanya, sebelumnya awal perjanjian kredit ini almarhum dan istrinya menolak untuk tandatangani asuransi jiwa.

"Padahal dalam perjanjian kredit itu dijelaskan bahwa apabila debitur itu meninggal maka istri akan menjadi ahli waris," katanya.

Baca Juga :

Sumber

Posting Komentar untuk "Menyurati Jokowi, Ibu Rumah Tangga Ini Meminta Keadilan Karena Menanggung Utang Almarhum Suami Rp 224 Juta"