Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Hal Inilah yang Membuat Debt Collector Pinjol Ilegal di Jatim Menagih Secara Sadis

Debt Collector Pinjol - Motif inilah yang membuat tiga oknum debt collector aplikasi pinjol ilegal melakukan hal secara sadis kepada nasabahnya. 

Debt collector aplikasi pinjol
Hal Inilah yang Membuat Debt Collector Pinjol Ilegal di Jatim Menagih Secara Sadis/Surya.co.id

Ketiga debt collector pinjol itu ternyata mendapatkan gaji sebesar Rp 4,2 juta dalam waktu satu bulan bekerja di perusahaan penyedia jasa penagih pinjol. 

Selain gaji pokok, mereka juga masih mendapatkan sumlah uang tambahan atau bonus sebagai insentif dari kerja kerasnya selama menagih. 

Adapun tambahan atau bonus yang diperoleh sebesar 65-75% dari jumlah total uang penagihan debitur atu nasabah. Atau jika diuangakan sebesar Rp 160-250 ribu, bagai salah satu seorang debitur. 

Itu semua yang buat semua tertarik bekerja sebagai penagih," terang Kapolda Jatim, Irjen Pol Nico Afinta di Gedung Humas Mapolda Jatim, pada hari Senin tanggal 25 Oktober 2021. 

Tak sampai di situ saja, Nico juga mengungkapkan lagi, motif dari ketiga pelaku tergiur untuk melakukan tindakan bisnis secara ilegal tersebut juga dikarenakan adanya fasilitas kuota internet gratis yang akan terus diberi oleh pihak perusahaan.

Hal itu dilakukan, selama mereka mau bekerja secara rajin dalam melakukan penagihan dengan serangkaian tata cara yang sudah ditentukan.

Selama menjalankan tugasnya sebagai Debt Collector pinjol ilegal. Nico menambahkan lagi, para pelaku tersebut juga melakukan mekanisme cara penagihan kepada para debitur atau nasabah dengan cara intimidatif.

Misalnya seperti mengejek pribadi nasabah dengan penyebutan tidak pantas dan yang pasti juga melanggar etika. Sampai ada juga yang mengancam menyebarkan foto diri dan data pribadi milik nasabah.

Tujuan dari tindakan intimidatif tersebut untuk mempermalukan para nasabah tersebut supaya terdorong untuk segera melakukan serangkaian pembayaran uang pinjol.

Praktik pengancaman itu, diterangkan Nico, dilakukan oleh para pelaku memanfaatkan fasilitas kemudahan aplikasi WhatsApp (WA) dan juga SMS seluler.

Cara yang dilakukan oleh ketiga pelaku tadi, blast (message blasting) yang berisi ancaman," jelasnya.

Ketiga orang DC pinjol tersebut memiliki nama, Rendy Hardiansyah (28) warga Cibungbulang Bogor, Anggi Sulistya Agustina (31) warga Tajurhalang Bogor dan yang terakhir memiliki nama Alditya Puji Pratama (27) warga Jombang.

Mereka adalah karyawan dari dua perusahaan penyedia jasa DC yang ditugaskan sebagai penagihan nasabah apabila terlambat membayar pinjaman.

Rendy Hardiansyah dan juga Anggi Sulistya Agustina adalah karyawan perusahaan dengan inisial PT MJI. Keduanya ditangkap atas dugaan laporan tindak pidana UU ITE dari pelapor yang memiliki inisial B.

Lalu untuk, Alditya Puji Pratama adalah karyawan perusahaan PT DSI. Ia ditangkap atas dugaan laporan tindak pidana UU ITE dari pelapor yang memiliki inisial M.

Penyediaan jasa DC tersebut, ditujukan untuk melakukan proses penagihan uang pinjaman disertai bunganya kepada nasabah atau debitur pinjol.

Dan selama kurang dari setahun menjalankan tugas untuk penagihan tersebut, kedua perusahaan tersebut memiliki kuasa perintah penagihan dari 36 aplikator pinjol.

Setelah dilakukan pemeriksaan dan juga berkoordinasi dengan pihak Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Ternyata 35 apliktor pinjol yang memanfaatkan jasa DC pinjol dari kedua perusahaan tersebut ternyata adalah ilegal atau tidak terdaftar di OJK.

Sementara, untuk status hukum perusahaan PT DSI dan PT MJI, Nico mengatakan kedua perusahaan tersebut ternyata tidak terdaftar secara sah dan resmi berdasarkan catatan resmi dari pihak Kemenkumham Jatim.

"Hanya ada 1 perusahan (aplikator) yang legal. Sedangkan 35 lainnya tidak terdaftar," tegasnya.

Baca Juga: 

Sumber

Posting Komentar untuk "Hal Inilah yang Membuat Debt Collector Pinjol Ilegal di Jatim Menagih Secara Sadis"